Cicit Rasulullah ke 33, Syekh Afifuddin Al Jailani: “Peran Ibu Sebagai Sentral Kesuksesan”

Cicit Rasulullah ke 33, Syekh Afifuddin Al Jailani: “Peran Ibu Sebagai Sentral Kesuksesan” Syekh Afifudin Al Jailani Cicit ke 33 Rasulullah pimpinan Tareqat Qadiriiyah Internasional. (foto: agung)

Cicit Syekh Abdul qodir Al Jailani ke 19 ini, Doakan Khofifah Jadi Gubernur Jawa Timur 2018

Kitanusantara – Alamat keberkahan bagi warga Jawa Timur, masih ditebarkan oleh Allah melalui kehadiran Cicit ke 33 Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shoalallahu Alaihi Wassalam, Syekh Afifuddin Al Jailani. Hal itu dibuktikan di acara Hari Ulang Tahun Muslimat NU ke 72 di ICBC Surabaya, Rabu (18/4/2018).

Dalam kesempatan tersebut cicit Syekh Abdul Qodir Al Jailani ke 19 itu, memberikan tausiyah kepada ribuan Jamaah Muslimat NU yang hadir dari seluruh kabupaten kota di Jawa Timur.

Sejumlah tokoh ulama juga turut hadir menerima “embun Syurgawi” dari Syekh Afifuddin Al Jailani. Habib Ahmad bin Zen Al Kaff, Nyai Machfudhoh binti Kiai Wahab Chasbullah, Ketua PP Muslimat NU Khofifah Indar Arawansa, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur Masruroh, tampak hadir dan sejumlah pimpinan cabang Muslimat se Jawa Timur.

"Ini pondasi asas, seorang ibu bisa mengangkat derajat bangsa. Ibu memiliki posisi istimewa di masyarakat," kata Syekh Afifuddin dalam tausiyahnya.

Kisah ibu diangkat oleh Sang Syekh, lantaran berkat ibu, pendidikan akhlaq di mulai. Menurut ulama keturunan nabi Muhammad saw yang ke 33 ini, ibu adalah bibit utama pendidikan keluarga.

Entah tema ini berkaitan dengan majunya pemimpin Muslimat, Khofifah yang menjadi cagub di Pilgub Jatim kali ini atau mendekati peringatan Hari Kartini. Yang jelas, menurut Syekh Afifuddin Al Jailani, peran ayah hanya merapikan saja. Jadi asas yang paling utama adalah seorang ibu.

"Sebagaimana nama Nahddoh yang berarti kebangkitan. Disamping ada Naddhohtul Ulama, juga ada Nahdhotunnisa, yang berarti sebagai kebangkitan perempuan," jelas Syeikh Afifuddin.

Syekh Afifuddin Al Jailani juga menegaskan, bahawa peranan wanita bukan hanya sebatas di lingkup rumah tangga saja. Wanita, juga bisa berkiprah di dalam mensukseskan umat. Sejarah membuktikan, bahwa suatu umat bisa sukses lantaran peranan wanita atau ibu.

Sebagaimana nabi dalam setiap kali bercerita, maka tidak pernah meninggalkan cerita tentang peranan seorang ibu dan wanita di belakangnya.

"Atas niat baik Bu Khofifah, semoga dikabulkan dan di angkat derajatnya, apa yang menjadi hajatnya dikabulkan oleh Allah," kata Syekh Afifuddin Al Jailani yang disambut kata “aamiiin” oleh ribuah Jamaah Muslimat NU.

Guru Besar dan Tokoh Penceramah Besar Irak yang kini tinggal di Malaysia dan mengajar di Yayasan Jenderami ini menegaskan, masyarakat yang baik adalah masyarakat yang bisa bekerja sama antara laki-laki dan ibu. Asas utamanya, jika ibu mendukung maka akan bisa membuahkan keberhasilan yang gilang gemilang.

"Semoga apa yang dihajatkan Ibu Khofifah dikabulkan, bisa membenahi masyarakat Jawa Timur, apalagi, bulan ini masih awal bulan Sya’ban," pungkas Syekh Afifuddin Al Jailani mengakhiri tausiyahnya.

Sebagai pelengkap, Syekh Afifuddin Al Jailani, merupakan salah satu dari keturunan Syekh Abdul Qodir al Jailani. Beliau adalah Ketua Tareqat Qadiriiyah Internasional. Berasal dari Iraq dan menetap di Malaysia. Khabarnya mengajar di Yayasan Jenderami.

Syaikh Afifuddin Al-Jailani adalah keturunan langsung ke-19 dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan keturunan langsung ke-33 dari Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah satu ulama Islam yang paling terkenal dan pendiri dan pemimpin jalan spiritual Qadriya.

Syaikh Afifuddin mengkhususkan diri dalam yurisprudensi, hukum syariah dan tasawuf. Salah satu guru yang terbesar adalah Mufti akhir Of Irak, Syaikh Abdul Karim Al Mudarris (juga dikenal sebagai Abdul Karim Bayarah). Syaikh Afeefuddin al jailani telah disertifikasi sebagai seorang sarjana Islam oleh Syekh Abdul Karim Al Mudarris, dengan mandat dari Ijazah Ilmiya. Dia telah belajar pada banyak ulama Islam lainnya juga.

Syaikh Afifuddin lahir dan dibesarkan di Baghdad pada tahun 1972. Ia menyelesaikan kuliahnya yang mengkhususkan diri dalam ilmu syariah. Dia adalah Imam dan Khatib di beberapa masjid di Baghdad termasuk Masjid Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dia juga dosen tamu di Irak dan negara-negara lain. Saat ini, Syaikh Afifuddin Al-Jailani tinggal dan mengajar di Kuala Lumpur, Malaysia, yaitu di Yayasan Jenderami. (gung/mnt)