Program Puskesmas 24 Kota Surabaya, DPRD: Tuntaskan Juga Dana Insentif Nakes

Program Puskesmas 24 Kota Surabaya, DPRD: Tuntaskan Juga Dana Insentif Nakes Anggota DPRD Kota Surabaya bersama nakes Puskesmas Ngagel Rejo ketika memantau pelayanan kesehatan. (Foto: Totok/ininusantara.com)

Lonjakan kasus aktif Covid-19 di Kota Surabaya beberapa waktu belakangan, cepat mendapat respons Wali Kota Eri Cahyadi. Termasuk dalam hal penanganan selama pandemi. Dengan mengeluarkan Program Puskesmas 24. Program itu menjadikan seluruh puskesmas di Kota Surabaya sebagai entry point tim gerak cepat (TGC) di wilayahnya masing-masing yang beroperasi selama 24 jam penuh.

Namun ada dua persoalan besar yang sepertinya harus segera dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam hal ini Wali Kota Eri Cahyadi. Yakni menuntaskan polemik insentif dan kekurangan tenaga kesehatan (nakes) dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Masalah itu dibeber anggota DPRD Kota Surabaya Mahfudz, ketika meninjau Puskesmas Ngagel Rejo dan Pucang Sewu, Kamis (15/7/2021). Ia mengatakan, program puskesmas buka 24 jam yang dicanangkan Wali Kota Eri Cahyadi perlu diapresiasi. Namun Eri juga harus melihat kesiapan tenaga di lapangan. Jangan sampai terhambat dan justru terkesan tidak maksimal.

"Bayangkan saja, setiap malam hanya ada 3 nakes yang berjaga. Dia sampai pagi. Paginya hanya ada 3-4 paling banyak 6. Itu belum kalau shift libur atau ada yang terpapar Covid dan harus isolasi mandiri atau mendapat perawatan. Jadi nakesnya berkurang. Masukan kami kepada pemkot, segera tambahkan nakes ke puskesmas, minimal 4-6 nakes tambahan, biar pelayanan bisa efektif," kata Mahfudz.

Setiap hari, sambung legislator dari Fraksi-PKB tersebut, puskesmas di Surabaya rata-rata melayani 150-250 swab test, 200-300 vaksinasi, dan layanan umum lainnya. Jika puskesmas hanya tersedia tak lebih dari 6 nakes di setiap waktu jaga, maka pelayanan akan tak maksimal. Nakes dipastikan kelelahan dan rentan terpapar Covid-19.

"Nakes itu garda terdepan, kita harus melindungi. Jangan sampai terlalu over working. Beri waktu istirahat yang cukup, kasihan nanti kalau akhirnya banyak nakes yang terpapar di satu puskesmas, kemungkinan besar puskesmas bisa shut down karena tak ada nakes, pelayanan kesehatan jadi goyang semua. Kasihan keluarga mereka di rumah," katanya.

Sedangkan untuk masalah insentif nakes dari pemkot yang belum juga cair, Mahfudz mengetahui hal itu ketika menerima keluh kesah nakes. Sejak Januari 2021, dana itu belum terbagikan kepada nakes-nakes di puskesmas. Padahal mereka sudah memberikan kinerja maksimal untuk melayani pasien di tengah pandemi.

Kerja keras itu yang harus diapresiasi juga. Jangan sampai fisik mereka sudah diambil dari keluarga di rumah, namun juga tak ada tambahan dana untuk keseharian nakes dan keluarga. "Nakes sebagai frontliner harus kita hargai sebaik mungkin. Tuntaskan juga dana insentif nakes. Mereka sudah bekerja lelah sekali," katanya.