Pemprov Jatim Terapkan PPKM Mikro serasa PSBB di Bangkalan

Pemprov Jatim Terapkan PPKM Mikro serasa PSBB di Bangkalan

Pemprov Jatim berencana menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikro kembali. Namun kali ini berbeda karena serasa Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Terutama PKM Mikro di klaster utama Covid-19, untuk menangani penyebaran varian delta.

Plh Sekretaris Daerah Provinsi (sekdaprov) Heru Tjahjono menyatakan, penerapan PPKM Mikro rasa PSBB itu, ini rencananya dilakukan di Kabupaten Bangkalan.

Secara rici, Ketua Tim Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dr Jhoni Wahyhadi, sentra utama tempat pemberlakuan kebijakan itu terutama ada di empat kecamatan (Arosbaya, Bangkalan, Klampis, Geger).

“Empat kecamatan ini, kan, yang sudah teridentifikasi dari sana beragkatnya (menyebarnya virus varian delta dari India). Itu yang harus diintensifkan,” ujarnya, Senin (21/6/2021).

Di empat lokasi itu testing, tracing, dan treatment (3T) terhadap pasien-pasien yang terdeteksi akan diperketat. Sementara penerapan PPKM skala mikro di setiap permukiman di empat kecamatan itu hingga tingkat RT juga diperkuat.

Pemprov Jatim menggandeng TNI dan Polri sudah memberikan pendampingan kepada Satgas Covid-19 dan tenaga kesehatan di Bangkalan dalam melakukan penanganan. Termasuk pendampingan soal penerapan PPKM Mikro di kampung-kampung.

“Karena sebenarnya tidak hanya di Bangkalan saja, penerapan delapan langkah PPKM Mikro yang sebenarnya sangat bagus itu sekarang ini kendor karena masyarakat lengah. Ya, karena sebelum ini PPKM Mikro berhasil menekan angka penularan. Ini yang membuat lengah,” ujarnya.

“Dinkes sudah mengirimkan timnya untuk mendampingi penerapan PPKM Mikro. TNI Polri juga sudah di sana memperkuat pengawasan dan bahkan menggantikan sejumlah tenaga kesehatan di beberapa Puskesmas. Karena, kan, ada beberapa nakes yang memang tertular,” kata Joni.

Selain rencana menerapkan PPKM Mikro rasa PSBB, Pemprov Jatim juga sudah menyiapkan 900 bed (tempat tidur) tambahan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya lonjakan kasus.

Sebanyak 500 bed ditambahkan di Rumah Sakit Lapangan di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya–Madura (BPWS). Sedangkan 400 bed lainnya ditempatkan di ruko-ruko di Bangkalan yang akan disewa sebagai tempat perawatan dan isolasi.