Warning Varian Delta bakal Mendominasi Pandemi Global

Warning Varian Delta bakal Mendominasi Pandemi Global Ilustrasi (foto istimewa)

Kepala ilmuwan Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan, varian Covid-19 baru 'Delta' bakal mendominasi kasus penularan secara global, sehingga perlu meningkatkan kebutuhan vaksin yang efektif.

"Delta dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," kata Swaminathan, dalam pernyataan dari Jenewa, Swiss, dikutip dari Reuters, Sabtu (19/6/2021).

Inggris melaporkan lonjakan kasus infeksi Delta yang tajam memaksa Perdana Menteri Boris Johnson memperpanjang pembatasan hingga akhir Juli. Sementara Pejabat kesehatan Jerman memperkirakan Delta akan menjadi varian yang dominan di negaranya, kendati warga yang sudah divaksin sudah terbilang banyak. Begitupula di Rusia, pemerintah menyebut lonjakan kasus infeksi harian sebagian besar dipicu varian Delta.

Negara tersebut berada di ambang gelombang ketiga wabah virus corona setelah penambahan kasus harian mencetak rekor lagi, terutama di Moskow. Pemerintah Rusia juga menyalahkan warganya yang enggan mendapatkan vaksin Covid-19.

Dilansir ABC varian Delta pertama kali terdeteksi di India pada Oktober tahun lalu. Di Inggris saat ini menjadi strain dominan. Menurut angka Kesehatan Masyarakat Inggris. Pihak berwenang di Inggris memperkirakan varian Delta 40 persen lebih menular daripada varian Alpha yang membuat Inggris memberlakukan lockdown pada awal tahun. 

Pada Rabu (16/6/2021) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, terdapat 80 negara yang terdeteksi varian Delta dan diprediksi bakal bermutasi saat menyebar.

Adapun, daftar gejala terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yakni pasien mengalami kelelahan, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, mual atau muntah, dan diare sebagai kemungkinan gejala infeksi.