Polda Jatim Amankan Regulator LPG Tak Ber-SNI, 1 Orang Jadi Tersangka

Polda Jatim Amankan Regulator LPG Tak Ber-SNI, 1 Orang Jadi Tersangka Polda Jawa Timur Saat jumpa Pers (Foto: Totok/ininusntara.com)

Polda Jawa Timur imbau masyarakat agar hati-hati dan jeli terhadap penggunaan regulator LPG yang tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Imbauan ini disampaikan sebab hingga saat ini Polda Jatim telah mengamankan 34.913 regulator LPG tidak sesuai SNI.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, regulator LPG tersebut adalah produksi dari PT. Cipta Orion Metal yang berada di Bekasi Jawa Barat. Kasus ini terkuak saat ada informasi tentang pemusnahan regulator LPG yang terekam dengan merek Comp/Destec sebab tidak memenuhi syarat SNI, oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan.

Dari kabar tersebut Ditreskrimsus Polda Jatim kemudian melakukan penyelidikan di 5 tempat distributor di wilayah Surabaya. Tepatnya di daerah pergudangan Margomulyo. Dari hasil penyelidikan 2 merek regulator yakni Starcam dan merk Com/Destec kemudian dilakukan uji coba. Dari hasil pengujian di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) dan Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) regulalator tersebut tidak memenuhi baku mutu.

"Dari dari hasil pemeriksaan uji tersebut dinyatakan regulator tersebut sangat berbahaya jika digunakan," ujar Gatot.

Dalam kasus ini, satu orang tersangka telah diamankan yakni pimpinan PT Cipta Orion Metal, IM (70 tahun). Tersangka pemilik pabrik regulator dibawah standart itu dikenai Pasal 113 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 5. miliar. Serta Pasal 66 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dengan ancaman hukuman pidana penjara 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp35 miliar.

Sementara itu, Kasubdit Indaksi Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Suryono menjelaskan, dari 21 parameter hasil pengujian pada regulator tersebut ada 19 parameter yang tidak memenuhi standart.

"Logikanya 1 saja dia tidak memenuhi standart, dia tidak akan keluar SNI nya, ini 19 parameter tidak memenuhi standart," jelasnya.

Saat ini, regulator yang tidak memenuhi SNI itu telah ditarik dari seluruh distributor di Surabaya. Penarikan ini demi menghindari penggunaan regulator tak be-SNI ini oleh masyarakat.