Partai Langit dan Sosok Pasangan Presiden, Wakil Presiden Nusantara 2019

Partai Langit dan Sosok Pasangan Presiden, Wakil Presiden Nusantara 2019 Partai Langit dan Sosok Pasangan Presiden, Wakil Presiden Nusantara 2019. (foto: net)

Kitanusantara – Memang, Pilihan Presiden (Pilpres) masih satu tahun lagi. Tetapi, gonjang - ganjing setiap menjelang Pilpres di negeri ini, selalu menarik dan menjadi perhatian. Bukan hanya perhatian masyarakat Indonesia saja, tetapi juga menjadi perhatian masyarakat dan pemimpin dunia, terlebih para investor asing. Berikut catatan redaksi.

Untuk memuaskan semua kalangan dan golongan masyarakat, siapapun pemimpinnya adalah hal mustahil. Namun setidaknya di setiap masa pergantian pemimpin, masyarakat telah semakin dewasa dalam menentukan pilihannya.

Sementara, ada kelompok-kelompok masyarakat di negeri ini yang memiliki tujuan-tujuan penguasaan sumber alam, kekayaan demi diri, kelompoknya sendiri tanpa mau tahu kehidupan masyarakat kelas bawah yang seharusnya dibuat semakin sejahtera lahir maupun batin.

Hingga akhirnya, kelompok-kelompok tersebut memaksakan kehendaknya, untuk menjadikan seorang pemimpin yang berpihak kepada mereka. Bahkan ada kelompok–kelompok yang dengan sistematis  melakukan sejuta tipu daya.

Kompetisi Pilkada atau Pilpres sendiri, membutuhkan bukan hanya strategi pendulangan suara, namun juga biaya yang tidak sedikit jumlahnya. “Kekayaan Partai” pendukung, tidaklah cukup guna “membujuk” pemilih untuk memberikan dukungan pada kandidat yang sedang berlaga, walau untuk itu, pemerintah sendiri telah menyiapkan cukup perangkat dan anggaran.

Jika dibandingkan dengan cost pesta demokrasi di negeri ini, ternyata berbanding terbalik dengan keberadaan tokoh pemimpin ideal yang bisa dimunculkan. Sunyinya tokoh ideal yang bisa tampil, memimpin negeri ini agar keluar dari kubangan hutang luar negeri, kemiskinan, rendahnya pendidikan serta mampu memberikan keadilan pada semua golongan terutama kaum yang tidak berdaya, hampir-hampir hanya merupakan mimpi anak bangsa.

Andai ada orang jujur, tanpa ada dukungan partai pengusung serta segudang uang dan sponsor dibelakangnya, dipastikan tidak akan bisa turut berkompetisi di arena Pilkada bahkan Pilpres. Egoisme partai, minimnya tokoh partai yang memiliki kapabitas, akuntabilitas, keadilan maupun kejujuran semakin menghilangkan impinan hadirnya pemimpin yang ideal untuk bangsa ini.

Sebagai contoh, jika saat ini penulis menyodorkan pemikiran agar partai mau mempersiapkan, mengusung pasangan ini di Pilpres 2019, untuk mewujudkan Nusantara Jaya dan Mandiri. Relakah partai-partai yang ada di negeri ini mendukungnya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh?  Sebab hemat penulis, kedua tokoh ini, memiliki empat sifat yang tidak dimiliki oleh para tokoh yang banyak bersliweran di media hingga saat ini. Keempat sifat itu adalah Shiddiq, Tabliq, Fathonah dan Amanah. Kedua tokoh ini adalah Gatot Nurmantyo dan MH Ainun Nadjib.

Namun, penulis yakin, partai-partai di negeri ini dengan berbagai alasan akan menolak kedua nama tersebut. Dan hanya “Partai Langit” sajalah yang mau mengusung dengan suka cita.

Padahal dari sisi moral, kedua tokoh ini memiliki moralitas yang baik, baik moralitas individu maupun moralitas kolektif. Artinya, secara individu, bukan seorang yang pernah memiliki riwayat korup. Dan secara moralitas kolektif belum diketahui telah melakukan penipuan terhadap masyarakat.

Lantaran itu, jika pemikiran ini mau dijadikan sebagai bahan renungan, baik oleh individu bahkan golongan dan partai yang ada di negeri ini, tentu bukan hal mustahil untuk mewujudkannya. Tentu saja atas dasar kerelaan kedua tokoh tersebut, dengan tujuan mengeluarkan negeri ini dari ancaman kebangkrutan di semua bidang kehidupan yang mengancam.

 

Sekilas Tentang Jenderal Gatot Nurmantyo    

Jenderal Gatot Nurmantyo, adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-16. Gatot menjabat sejak 8 Juli 2015 hingga 8 Desember 2017. Jenderal Gatot Nurmantyo diangkat oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Jenderal TNI Moeldoko. Jabatan Panglima Jenderal Gatot yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 ini kemudian digantikan oleh Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960. Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Munir. Pada bulan Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon Panglima TNI, menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna baktinya.

Di masa jabatannya sebagai Panglima TNI, Gatot bersama tokoh pemerintahan lainnya beserta para aktivis sosial bergabung dalam aksi untuk mendukung toleransi beragama selama periode unjuk rasa di Jakarta pada bulan November 2016. Bersama dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Tito Karnavian dan aktivis Islam seperti Yenny Wahid, mereka menggalang dukungan untuk persatuan antar agama.

Dari pernikahannya dengan Enny Trimurti, ia memiiki 3 orang anak. Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982, dan berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad. Gatot pernah menjadi Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat), Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya dan Gubernur Akademi Militer. Di bidang lainnya, Gatot juga menjabat sebagai Ketua Umum PB FORKI periode tahun 2014 hingga 2018.

 

Sekilas Tentang MH Ainun Nadjib atau Cak Nun

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha (MH) Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Cak Nun adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi 'ora dadi presiden ora patheken'. Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui banyak buku.

Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor setelah melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik, pada pertengahan tahun ketiga studinya.

Dari Gontor, Cak Nun kemudian pindah ke Yogyakarta dan menamatkan SMA nya di SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi. Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah salah satu putranya yang kini tergabung dalam grup band Letto.

Dalam perjalanan hidupnya,  pernah lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975. Di saat itu, Cak Nun belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Umbu dikenal seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan hidup Cak Nun. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade (penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis).

Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha juga pernah terlibat dalam produksi film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011), skenario film ditulis bersama Viva Westi.

Dalam kesehariannya, Cak Nun terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10 sampai15 kali per bulan bersama Gamelan Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40 sampai 50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.

Cak Nun juga membentuk Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah salah satu forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. (Mr. Chessplenx)