Presiden Jokowi Instruksikan Menpora Persoalkan Skandal All England

Presiden Jokowi Instruksikan Menpora Persoalkan Skandal All England Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti tidak bisa mempertahankan gelarnya di All England 2021 setelah kalah dari lawan di luar lapangan. (Foto: istimewa)

Perhelatan All England 2020 menjadi periode manis terakhir bagi perbulutangkisan Indonesia. Menjaga tradisi setelah andalan wakil Merah Putih bertumbangan, ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti justru finish sebagai jawara.

Ambisi mengulang kenangan itu berantakan tahun ini. Bukan karena keperkasasaan lawan-lawannya, namun akibat kuasa otoritas kesehatan Inggris (NHS) yang membuat seluruh wakil Merah Putih mengubur impian meraih gelar di turnamen bulu tangkis tertua di dunia ini.

Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam. Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jumat (19/3/2021), muncul instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar agar semua pihak tidak tinggal diam terhadap perlakuan yang dialami tim bulu tangkis Indonesia di All England 2021.

“Presiden Jokowi meminta kepada kami untuk melakukan langkah-langkah cepat dan terbaik terutama untuk menyelamatkan anak-anak kita di sana,” ujar Menpora Zainudin Amali.

“Di sisi lain pak presiden juga meminta supaya perlakuan yang tidak baik ini jangan didiamkan dan harus tetap dipersoalkan,” kata dia menambahkan.

Menpora menegaskan bahwa pemerintah kecewa atas perlakuan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) terhadap tim bulu tangkis Indonesia di All England 2021. Apalagi para pemain dan ofisial juga diperlakukan tidak adil setelah dipaksa mundur. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas lift serta harus kembali ke hotel dengan jalan kaki.

Tim Indonesia saat ini masih harus menjalani isolasi mandiri di hotel setidaknya hingga 23 Maret mendatang. Zainudin memastikan bahwa Kedutaan Besar Indonesia di Inggris juga telah menyuplai kebutuhan logistik bagi tim Indonesia di Birmingham, mengingat mereka tidak diperbolehkan ke luar hotel.

Pemerintah juga saat ini tengah berupaya untuk mencari kejelasan terkait nasib tim Indonesia di Birmingham. Jika tidak memungkinkan melanjutkan pertandingan, mereka bisa dipertimbangkan untuk kembali ke Tanah Air.

“Saya barusan dapat kabar kalau logistik untuk mereka sudah disuplai, tetapi tidak bisa bertemu secara fisik. Saat ini kami masih berusaha agar pemain kita tidak terkurung (di hotel),” pungkas dia.

Tim Indonesia diharuskan mundur dari turnamen BWF World Tour level Super 1000 itu setelah 20 dari 24 anggota menerima surat elektronik dari NHS yang mengabarkan bahwa salah satu penumpang dalam pesawat yang mereka tumpangi dari Istanbul ke Birmingham dinyatakan positif Covid-19. Mereka diwajibkan menjalani isolasi mandiri di hotel selama 10 hari terhitung mulai 13-23 Maret.

Skuad Merah Putih sebelumnya sudah menjalani tes Covid-19 setiba di Birmingham, Sabtu (13/3) dan seluruhnya mendapati hasil negatif. Namun sesuai dengan regulasi Pemerintah Inggris yang tentang penelusuran kontak erat positif Covid-19, perjuangan timnas Indonesia harus berhenti di tengah jalan.

BWF pun dinilai gagal menyelenggarakan kompetisi karena tidak dapat mengantisipasi kejadian tak terduga seperti yang harus dialami tim Indonesia.