Manhaj Politik Nusantara

Manhaj Politik Nusantara

Oleh: Abduloh Safik

 

Naiknya wacana Islam Nusantara, awal mula munculnya ketika disematkan sebagai tema Muktamar NU ke-33 di Jombang 2015. Meskipun wacana ini pada perjalanannya masih disalahpahami, akan tetapi perkembangan wacana ini dengan cepat menyebar. Baik dengan tumbuhnya fikih Nusantara maupun tasawuf Nusantara. Pada saat ini, fikih Nusantara yang merupakan “sub-ilmu” dari Islam Nusantara kini sudah mengeluarkan buahnya, yakni ‘Fikih Kebangsaan’.

Faurak Tsabat Zaini dkk, dalam buku fikih kebangsaan mengutarakan, fikih kebangsaan ini lahir karena ada kalangan yang belum memahami manhaj politik para masyaikh. Bahkan bentuk ketakpahaman tersebut mengakibatkan caci maki, terutama kepada kiai-kiai NU. Atas dasar ini, lalu hasil rumusan ini dibukukan dengan judul fikih kebangsaan. (Faruk dkk: Fikih Kebangsaan Lirboyo: Buah dari Fikih dan islam Nusantara:2020)

Sesuai yang penulis utarakan di atas, fikih kebangsaan merupakan buah dari ranting fikih Nusantara. Andaian ini beralasan, jika mengacu dalam tradisi keilmuan, objek kajian dalam suatu rumpun keilmuan akan selalu mengalami penyempitan untuk memfokuskan pada titik-titik tertentu. Atau bahasa sederhananya, fikih kebangsaan merupakan spesifikasi lebih lanjut dari fokus dalam kajian fikih Nusantara.

Untuk mengenal fikih kebangsaan lebih sistematis, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu menghampiri apa itu fikih Nusanara. Tentunya, hal ini sebagai pijakan untuk memahami lebih lanjut fikih kebangsaan

Dengan mengacu kepada berbagi gagasan para tokoh, seperti Prof Noor Harisudin dalam Fiqh Nusantara: Pancasila dan sistem hukum nasional di Indonesia (2019), mengutarakan bahwa fikih Nusantara sendiri merupakan suatu putusan hukum fikih, yang mana dalam mengambilan suatu hukum terdapat dialog antara teks-teks syariat dengan horizon tertentu di suatu tempat.

Sederhananya, yang menjadi fokus pembahasan dalam fikih Nusantara adalah yang berhubungan dengan muamalah, tidak menyentuh pada masalah ibadah mahdah. Sedangkan ibadah mahdah sendiri, seperti salat, zakat, puasa dinilai sudah tidak bisa diganggu gugat. Hanya mengikuti pendapat-pendapat ulama pendiri mazhab dan para pengikutnya.

Sedangkan muamalah sediri sifatnya dinamis, tergantung zaman yang mempengaruhinya. Yang dimaksud muamalah ini tidak sesempit yang berhubungan jual beli saja, melainkan juga siyāsah, al-ahwāl al-syakhsīyah, jināyah, qaḍā.

Contoh hukum fikih Nusantara seperti halnya hukum halalnya suatu hewan tertentu yang hanya ada di Nusantara, mengenai Kompilasi Hukum Islam (KHI), maupun pandangan hukum fikih mengenai konsep bernegara dengan begitu ragamnya elemen yang ada di dalamnya.

Istilah ‘corak keadaan suatu daerah tertentu’ yang telah penulis utarakan di atas memang terbilang masih abstrak. Akan tetapi, garis besar dari istilah tersebut adalah suatu tradisi di suatu daerah tertentu, dan juga konsep atau pertimbangan kemaslahatan.

Dari salah satu yang menjadi objek pembahasan fikih Nusantara di atas, yaitu siyāsah, dan juga corak masyarakat Indonesia yang begitu plural, terlihat mencolok bahwasanya fikih kebangsaan merupakan tindak lanjut dari fikih Nusantara. Pancasila dinilai sebagai dasar negara atas kesepakatan bersama, dan juga dinilai memberikan kemaslahatan untuk berbagai golongan suku, ras, maupun agama.

Prof Azra, Mengatakan bahwasanya fikih kebangsaan merupakan suatu rumusan hukum Fikih dalam suatu konsep berbenegara dengan mempertimbangkan teks-teks syariat dan UU 1945 Pancasila sebagai kesepakatan bersama.(Seminar di Hotel Hilton Bogor tentang politik Islam:2018)

Meskipun ada golongan yang menilai bahwa pancasila sebagai system negara tidak sah menurut Islam, akan tetapi semua argument tersebut sudah dapat dipatahkan, karena dalam nash sendiri tidak ada penjelasan secara konkrit mengenai prinsip-prinsip dalam bernegara. Tentunya bagaimanapun system yang dijalankan dalam suatu negara hukumnya sah, asalkan mash menjalankan prinsip yang telah dijelaskan secara nash.

Pada penjelasan selanjutnya, fokus kajian dalam fikih kebangsaan adalah membahasa berbagai fenomena yang ada kaitannya antara kebangsaan dan keislaman. Seperti halnya tidak dilaksanakannya hukum potong tangan menjaga gereja, mengucapkan selamat hari raya agama lain dll,

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah wacana Islam Nusantara muncul dipermukaan pada tahun 2015, fikih Nusantara dimulai 2016 dengan literature yang berjudul Fiqh Nusantara dan Sistem Hukum Nasional Prespektif Kemasalahatan Kebangsaan, artinya dalam disiplin ilmu pengetahuan, Fikih kebangsaan ini seolah-olah hadir melampau zaman, Meskipun Fikih Nusantara baru terbilang cukup sempurna pada tahun 2019 fikih kebangsaan sudah dapat menunjukkan eksistensi dirinya pada tahun 2018, meskipun kedua wacana ini tidak harus terikat kuat, akan tetapi dalam rumpun keilmuan Fikih kebangsaan dapat menunjukkannya.

 

Profil Penulis:

Lahir di Kota Surabaya (12 Juni 1983) yang pernah nyantri di Ponpes Mambaussholichin Suci Manyar Gersik 1998 dan Ponpes Bahrul Ulum asrama al Muhibbin Taraz Jombang Jatim. Kuliah S1 di Fakultas Tarbiyah UIN Malang 2005, S2 UIN Sunan Ampel Surabaya lulus 2011, pernah aktif di Komisariat PMII UIN Malang, Ketua Ranting Kedung Asem GP Ansor, kini Sekretaris Program Studi S2 IAT IAIN Tulungagung, kandidat Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya, dan sekaligus pengajar di IAIN Tulungagung.