Industri Tembakau Tertinggi, Pemprov Jatim Kembangkan KIHT

Industri Tembakau Tertinggi, Pemprov Jatim Kembangkan KIHT Petani Tembakau saat merawat tanaman tembakau (istimewa)

Pemerintah Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan mengembangkan sektor kawasan industri hasil tembakau (KIHT). Sebab, komoditi emas hijau ini masih menjadi penghasil industri hasil tembakau (IHT) tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini yang akan dimanfaatkan Pemprov Jatim dalam mengelola KIHT. Sesuai dengan intruksi Gubernur Khofifah Indar Parawansa, KIHT ini diperuntukkan meningkatkan pelayanan, pembinaan industri, dan pengawasan terhadap produksi dan peredaran hasil tembakau.

Dengan harapan, dapat meningkatkan perekonomian daerah. “Pada 2019 Jatim menghasilkan 132.648 ton tembakau dan menempati urutan pertama penghasil tembakau nasional (disusul Jateng, NTB, dan Jabar),” urai kepala Disperindag Drajat Irawan, Jumat (19/2/2021).

Drajat menyampaikan, pembentukan KIHT sendiri selaras dengan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) dari pusat serta program gubernur yang bertagar Jatim Bangkit.

KIHT ini juga dicanangkan akan mendukung program IKM/UKM yang merupakan jenis usaha terbesar di Indonesia. Dengan begitu, regulasi perekonomian akan berjalan dimulai dari daerah hingga mendorong perekonomian nasional.

“Segera kita lakukan tindak lanjut dengan melakukan koordinasi dengan dinas kabupaten/kota yang membidangi perindustrian, perdagangan, perkebunan serta instansi terkait," ungkapnya.

Perlu diketahui, bea cukai yang didapat dari IHT di Jatim mencapai angka Rp 104,56 triliun atau setara 63,42 persen dari total penerimaan cukai hasil tembakau secara nasional. Untuk pabrikannya sendiri, setidaknya ada 425 pabrik yang nempekerjakan sekitar 80 ribu tenaga kerja.