BKPM RI Buka Jalan untuk Neo-VOC Kembali Keruk Papua

BKPM RI Buka Jalan untuk Neo-VOC Kembali Keruk Papua Petani Pala di Kabupaten Fakfak, Papua Barat memanen pala, komoditi perkebunan yang bernilai tinggi di pasar internasional. (Foto: Istimewa)

Perusahaan multinasional Verstegen digaet Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia untuk berinvestasi ke Papua pada 2021 mendatang. Ini menandakan babak baru kembalinya neo Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC di Indonesia, bekas wilayah yang melambungkannya sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia pada masa lalu. Kekayaan yang dikeruk dari bumi Nusantara bahkan disebut bernilai paling besar sepanjang sejarah.

Bahlil mendapat kepastian, neo-VOC tersebut akan menginvenstasikan dananya untuk mengelola 40 ribu hektare kebun pala di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kepastian itu didapat setelah ada kesepakatan kerja sama antara Pemerintah RI dengan Verstegen. Tidak hanya budidaya pala, namun juga mendirikan industri rempah di Papua.

Tanpa menyebut berapa nilai yang dibawa perusahaan itu, Bahlil menegaskan tujuan membuka jalan perusahaan rempah terbesar di dunia tersebut untuk mendapatkan kepastian pasar rempah Indonesia.

"Masyarakat sana (Papua) perkebunannya banyak. Supaya harga bisa kami dongkrak dan agar ada kepastian pasar, 2021 sudah mulai. Verstegen adalah eks VOC yang 350 tahun jajah kita," kata Bahlil dalam diskusi daring Kongres ke-37 GMKI dilansir dari CNN, Senin (23/11).

Lebih lanjut, Bahlil menyebut perusahaan menyanggupi persyaratan yang dibuat pemerintah Indonesia yaitu menggandeng pelaku UMKM. Syarat diberikan agar pelaku usaha kecil lokal dapat tumbuh beriringan dengan investor asing yang masuk. Dia mengaku enggan meneken perjanjian jika perusahaan tak mau menggandeng UMKM.

Selain Verstegen, Bahlil secara terpisah juga menyatakan perusahaan Belanda lainnya, produsen susu bendera FrieslandCampina berniat menambah investasi sebesar Rp 4,5 triliun di Indonesia pada awal 2021.

"Saya berterima kasih atas minat investasi dari FrieslandCampina ini. Kami siap menjemput bola. Kami juga telah sepakat bahwa Friesland akan memenuhi tiga syarat yang telah diajukan oleh Pemerintah Indonesia. Pemerintah juga menawarkan lahan gratis selama lima tahun untuk pendirian pabrik di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah," jelas Bahlil beberapa waktu lalu.

Rencananya FrieslandCampina melalui perusahaannya di Indonesia, Frisian Flag Indonesia, akan kembali berinvestasi senilai 220 juta Euro hingga 270 juta Euro atau Rp 3,7 triliun hingga Rp 4,5 triliun. Perusahaan akan bergerak di bidang usaha industri susu segar, krim, susu kental manis serta turunannya.

Pertemuan dengan FrieslandCampina ini merupakan bagian dari rangkaian agenda pertemuan Kepala BKPM dengan empat Chief Executive Officer (CEO) perusahaan multinasional (MNC) atau korporasi global yang bergerak di berbagai sektor industri di Amsterdam, Belanda.

Seperti diketahui, DutchReview.com pada 24 Januari 2018, sempat mengeluarkan data kekayaan aset VOC yang diperkirakan mencapai 7,9 triliun dollar.  Nilai itu sama dengan gabungan aset 20 perusahaan papan atas di era modern, termasuk Google dan Apple. Namun, VOC sejak lahir pada 1602, akhirnya tamat pada 1799.