Forsis: Pekerja Malam Tidak Identik Dengan Hiburan Malam

Forsis: Pekerja Malam Tidak Identik Dengan Hiburan Malam Ketua DKD Forsis Jatim, Habib Mustofa

ININUSANTARA.COM – SURABAYA, Terkait statement Jaringan Aliansi Santri dan Mahasiswa Surabaya (Jasmass) perihal orasi Anggota DPRD Fraksi PKB Surabaya, Mahfudz yang dianggap kontroversi. Ketua DKD Forsis Jatim, Habib Musthofa menilai, Jasmass sama sekali tidak memberikan solusi terhadap problematika yang dirasakan warga kota Surabaya saat ini.  

“Jasmass mungkin bisa memberikan solusi terhadap Perwali, khususnya orang-orang pekerja jam malam,” kata Habib saat dikonfirmasi wartawan, Rabu 5 Agustus 2020.

Menurut Habib, Jasmass seharusnya paham, bahwa para pekerja jam malam di Surabaya, tidak hanya identik pada dunia hiburan saja. Akan tetapi mereka ada yang bekerja sebagai penjaga warkop dan lainnya.

Selain itu, Habib menegaskan di Surabaya banyak juga mahasiswa yang bekerja pada saat malam hari,  sehingga Jasmass ditantang ikut rembuk untuk mencarikan solusinya bagi para pekerja jam malam tersebut.

“Kalau Jasmass mengatasnamakan santri dan mahasiswa, saya yakin tidak sedikit mahasiswa di surabaya yang kerjanya jam malam,” ujar Habib.

“Pada prinsipnya, perwali yang dimaksudkan pada orang-orang yang melakukan aksi, Walikota juga harus memikirkan perekonomian para pekerja jam malam,” tandas Habib.

Sementara, Mahfudz menjelaskan bahwa dirinya ketika berorasi sama sekali tidak pernah mengatakan membela tempat hiburan malam.

“Di orasi saya tidak ada satu kalimat pun yang membela tempat hiburan malam,” jawab Mahfudz.

Sebelumnya, Jaringan Aliansi Santri dan Mahasiswa Surabaya (Jasmass) mengecam orasi Anggota DPRD Fraksi PKB Surabaya, Mahfudz yang meminta Perwali No 33 dicabut, saat para pekerja malam melakukan demonstrasi di Balai Kota Surabaya, Senin (3/8/2020).  Jasmass menganggap orasi tersebut  sebagai bentuk dukungan untuk dibukanya tempat hiburan malam. (12AM)