KH. Sofiyullah Muzammil : Sujud Adalah Sebuah Puncak Penghambaan Pada Allah SWT Tidak Pada Manusia

KH. Sofiyullah Muzammil :  Sujud Adalah Sebuah Puncak Penghambaan Pada Allah SWT Tidak Pada Manusia

ININUSANTARA.COM - SURABAYA, Momen langka, aksi Walikota Surabaya Tri Rismaharini sujud di kaki ketua tim Penyakit Infeksi Emerging dan Remerging (Pinere), banyak memantik komentar negatif dari berbagai kalangan.

Komentarpun datang dari berbagai arah, Dari pandangan politik sampan pada perspektif hukum islam.

Menurut KH. Sofiyullah Muzammil, Sujud adalah sebuah puncak penghambaan yang tulus seorang hamba terhadap Tuhannya dengan meletakkan kepala sebagai mahkota yang paling dijunjung tinggi dan dihormati di tempat yang paling hina.

"Sujud dalam artian yang demikian hanya boleh dilakukan oleh makhluk kepada Sang Khaliq, Penciptanya. Sujud kepada sesama makhluk haram hukumnya,” tegas Dr KH Sofiyullah Muzammil (Gus Sofi), Senin (29/6/2020)

aksi sujud walikota risma kmdi depan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  seharusnya tidak patut terjadi, apapun alasannya. Karena sujud hanya patut dilakukan kepada sang pencipta.

“Sujud hanya boleh dilakukan oleh seorang mahkluk kepada Tuhannya. Tuhan yang telah menciptakan kehidupan dan yang menguasai alam semesta.Tenaga medis bukan Tuhan,” kata Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu.

Komentar terakhir datang dari Ulama ahli fiqh, KH Afifuddin Muhajir. Menurut Kiai Afif panggilan akrabnya. Sujud dibagikan menjadi dua macam. “Pertama, sujud ibadah. Kedua, sujud penghormatan,” kata Kiai Afif kepada

Tapi menurur beliau dua-duanya tidak boleh dilakukan kepada selain tuhan, karena ini hukumnya haram. Dengan mengutip hadis Nabi Muhammad menjawab: Laa yanbaghi ayyasjuda li-ahadin mindunillah. Artinya, tidak ada yang berhak mendapatkan penghormatan sujud selain Allah.

"Sujud ibadah kepada makhluk adalah kufur, sedang sujud penghormatan kepada makhluk adalah haram,” tegas Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur itu.

Sudah kita ketahui, pada senin kemarin (29/6) kita dipertontonkan aksi walikota Surabaya yang sujud di kaki Ketua Tim Pinere, dr Sudarsono saat audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya di Balai Kota Surabaya. Tak hanya satu kali,  Walikota Risma mengulanginya sampai dua kali.

"Kami tidak bisa masuk Rumah Sakit dr. Soetomo pak, kami bisa kalau rumah sakit yang lain. Kalau Bapak nyalahkan kami, kami enggak terima, kami tidak bisa masuk di sana," ujar Risma.

Usai dibujuk sejumlah orang yang hadir, Risma kembali berdiri dan melanjutkan audiensi mencari solusi dalam penanganan Covid-19 di RS Soetomo.

Dari pandangan politik setidaknya ada dua legislatif yang turut andil mengomentari aksi sujud walikota dua periode tersebut.

Ketua fraksi Golkar di DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menganggap sikap Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan aksi sujud sambil menangis di hadapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terlalu berlebihan.

Selain itu Fathoni mengatakan hal yang sangat dibutuhkan warga adalah aksi nyata untuk melakukan terobosan dalam penanganan pencegahan penyebaran Covid-19, bukan sujud yang tak berarti itu.

“Yang dibutuhkan masyarakat sekarang itu bukan seberapa keras dia (Risma) menangis, bukan seberapa keras kepala daerah memarahi anak buahnya. Tetapi bagaimana mampu mengatasi Covid ini secara maksimal,” ujarnya, Senin (29/6/2020).

Pasalnya, anggota komisi A DPRD kota Surabaya ini mengatakan, realisasi untuk penanganan Covid-19 baru terserap 30 milyar dari anggaran 208 milyar yang sudah dianggarkan. Sampai sekarang sisa dari anggaran tersebut tidak kunjung terserap ditengah warga yang terpapar Covid-19 makin meningkat drastis.

Komentar senada dikeluarkan Wakil ketua Fraksi PKB di DPRD Surabaya Mahfudz, yang juga menganggap aksi Walikota Risma  berlebihan.

Menurut Mahfudz, hal yang lebih penting adalah apa yang akan dilakukan Risma setelah bantuannya ditolak oleh RS dr.Soetomo. Selain Pemerintah kota Surabaya harus legowo, Mahfudz menambahkan harus ada jalinan komunikasi yang baik antara Walikota Risma dan Gubenur Jatim Khofifah, agar hal serupa tidak terjadi lagi.

“Tapi kalau ditolak terus menangis, bahkan sampai sujud – sujud, ya janganlah. Sebenarnya hanya soal komunikasi antara bu Risma dengan bu Khofifah, kalau perlu ngak usah media lah, coba ngobrol dari hati ke hati, jadi ngak usah berlebihan lah santai ae,” pungkasnya.

Setelah pandangan potitik yang keluarkan, terus bagaimana antraksi sujud bu walikota dalam perspektif hukum Islam? (T02K/IN01)