Peringatan Hari Disabilitas Sedunia di Surabaya

Peringatan Hari Disabilitas Sedunia di Surabaya Pengunjung sekaligus kolektor di bursa lelang karya lukis para penyandang disabilitas (foto: net)

Digelar konser musik dan lelang lukisan karya para disabilitas

Surabaya, INc – Trenyuh dan bangga. Begitulah kata yang tepat saat melihat lelang lelang empat lukisan karya anak-anak disabilitas dan konser sederet musisi disabilitas. Kegiatan yang berlangsung di Balai Budaya Surabaya, Minggu (1/12/2019), merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Disabilitas Sedunia di Surabaya.

Kegiatan digelar oleh Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya dengan menggandeng Awaken Organizer Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Fikom UKWMS).

"Sebelumnya, kami memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia dan Hari Cerebral Palsy Sedunia, pada hari ini kami memperingati Hari Disabilitas Sedunia," ungkap ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Iis Hendro Gunawan, disela acara kepada jurnalis.

Melalui serangkaian kegiatan ini, lanjut Iis, pihaknya ingin menyampaikan bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengembangkan potensi sampai pada level yang terbaiknya.

"Kita semua mempunyai kewajiban untuk mendukung kehebatan mereka. Bahkan saya merasa beberapa dari kita tidak sehebat mereka," ujar Iis.

Empat lukisan yang dilelang yakni karya Vincent (penyandang autis), Edward Ryo (penyandang down syndrom), Celena Aline (penyandang autis), dan Andrew Joseph (penyandang autis).

Seorang pelelang yang memperoleh lukisan karya Aline, yang menggambarkan pohon, tanaman rindang, dan laut, Deice, mengapresiasi keempat lukisan yang dilelang.

"Untuk lukisannya Aline, misalnya, saya tertarik karena konsepnya sangat terlihat jelas, warnanya juga berani. Sekilas, keempat lukisan tersebut seperti dibuat oleh pelukis profesional. Padahal, keempatnya merupakan anak berkebutuhan khusus," ungkap dia seraya menambahkan jika para disabilitas memiliki kemampuan yang luar biasa.

Hasil lelang tersebut, nantinya akan disumbangkan kepada Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) dan Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome (Potads)

Di sisi lain, dosen pengampu mata kuliah aktivitas komunikasi UKWMS, Teresia Intan mengungkapkan, konser disabilitas akan dimeriahkan berbagai penampilan, mulai dari vokal, permainan angklung, keyboard, dan lain sebagainya.

Seperti Kiki, seorang guru tunanetra di YPAB, atau Touch Heart Band yang digawangi oleh para autis dan tuna netra.

Tak ketinggalan penampilan spesial dari Putri Ariani (tuna netra), Adelina Setiwan (cerebral palsy), dan sederet penampil lainnya.

"Tema kegiatan kami kali ini yakni Beauty in Diversity. Tema ini diusung supaya kita semua saling mengenal dan mengasihi tanpa melihat perbedaan. Keindahan dalam perbedaan," jelas Teresia yang berharap agar para disabilitas lainnya tidak minder untuk berkarya. (cb)