Cegah KDRT Versi Pemkot Surabaya

Cegah KDRT Versi Pemkot Surabaya

Bentuk PKBM di simpul kecamatan dan satgas perlindungan perempuan dan anak di tiap kelurahan.

Surabaya, Inc – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang biasa terjadi pada perempuan, mendapat perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Karena itu, untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya KDRT, dibentuk Kader Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM) di kecamatan dan satgas perlindungan perempuan dan anak di tiap kelurahan.

Terkait itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya, Chandra Oratmangon menuturkan, jika Pemkot Surabaya terus berupaya melakukan intervensi untuk mengakomodasi responsif gender. Intervensi dilakukan baik di tingkat kecamatan, kelurahan hingga ke masyarakat langsung.

“Mulai kegiatan sosialisasi, kegiatan capacity building itu sudah kita laksanakan. Intinya penguatan terhadap ketahanan keluarga dan nilai-nilai pengarusutamaan gender,” kata Chandra, Rabu (27/11/2019).

Dalam upaya penguatan Pengarusutamaan Gender (PUG) tersebut, Pemkot Surabaya dibantu tim relawan yang berjumlah sekitar 900 orang. Mereka terdiri dari ibu-ibu penggerak PKK, Kader PKBM yang ada di tingkat kecamatan, serta satgas perlindungan perempuan dan anak di kelurahan.

“Tugas mereka memberikan edukasi dan pendampingan, dan apabila ada kasus-kasus segera mereka tangani dan menginfokan kepada kami (dinas), sehingga langsung bergerak bersama-sama,” ujar Chandra.

Diungkapkan, tahun 2019 jumlah laporan kasus KDRT yang diterima DP5A berjumlah 21. Kasus tersebut dipicu karena berbagai faktor, mulai ekonomi, perselingkuhan hingga kurangnya sikap menghargai perempuan.

“Ini kan semua juga kembali ke ketahanan keluarga. Kalau keluarga tidak kuat, ya akhirnya terjadi seperti ini (KDRT, red),” kata Chandra.

Untuk mencegah terjadinya KDRT, lanjut Chandra, DP5A intens memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, bagaimana menguatkan ketahanan dan keharmonisan dalam keluarga. Bahkan, Pemkot Surabaya juga memberikan pendampingan untuk penguatan ekonomi dari sisi perempuan.

Chandra pun menyebut, pihaknya juga bersinergi dengan psikolog, hingga Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya dan Polres Tanjung Perak dalam upaya menangani kasus-kasus KDRT tersebut.

“Dari sisi psikologinya (korban) kami juga dampingi dari tim psikolog kami, karena ada trauma (psikis) dan lain-lain. Karena untuk mengobati luka batin itu agak lama (bertahap) tidak bisa cepat,” jelas Chandra.

“Namun, lambat laun masyarakat Surabaya kini semakin paham dan sadar tentang pentingnya kesetaraan gender tersebut. Apalagi, masyarakat juga semakin kritis melaporkan, ketika mengetahui adanya kejadian di lingkungannya yang dinilai tidak sesuai. Ibu-ibu ini kan semakin mengerti tentang hak dan kewajiban mereka seperti apa. Masyarakat juga semakin kritis, karena mereka sudah tahu hak-hak mereka,” urai Perempuan yang pernah menjabat Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya ini. (markus/cb)